Minggu, 24 Juni 2012

I Like My Nice Daddy











Satpam Kantor


(Gambar hanyalah fiktif belaka)

Ehm, lama kuperhatikan Pak Wanto, satpam kantor itu. Umurnya hampir 40an, namun badannya masih bagus di balik pakaian satpam hitam2 yang ketet itu ,dan lumayan tinggi walau sedikit ‘ndut’, item, kumisan tipis yang tampak bekas cukuran. Terus terang, aku ada ‘nafsu’ ama dia. Gw banget.
Ada satu kebiasaannya yang membuatku keki. Dia senang sekali mencolek pantatku. Tambah hari kok pantatnya tambah seksi aja sih mas, celutuknya seraya mencolek pantaku bahkan kadang2 meremas kayak gemas gitu. Dan, biasanya hal itu ia lakukan saat aku melewatinya. Bahkan ga peduli betapa banyaknya teman2 sekantor yang tertawa menyambut leluconnya. Awalnya sih aku risih tapi selanjutnya aku cuek.
Ada satu hal yang menarik dari lelaki itu. Sungguh aku penasaran tonjolan yang menggunung di selangkangannya itu. Aku menelan ludah membayangkan ukuran kemaluannya. Aku jadi ‘terobsesi’ ingin menikmatinya.
Nah, hari itu, pertengahan Maret 2007, aku ketemu pak Wanto di lorong menuju toilet. Nampaknya dia baru selesai dari kamar kecil. Melihatku dia mengangguk dan tersenyum nakal. Aku berdebar, duh, gundukan itu membuatku makin penasaran
“eh, mas. Mau ke toilet ya?” sapanya mencoba ramah.
“ya, rame ga di dalam?”
“Ga mas. Sepi aja”
Aku melewatinya dan lagi-lagi tiba-tiba aku rasakan tangannya mencolek pantatku. Pak Wanto tertawa nakal.
“senang ya pak sama pantat saya?”tembakku.
“hehehe.. Bahenol..”
Aku tersenyum ragu membalas tawanya.
“sini deh Pak”panggilku agar dia mendekat. Dia yang semula mau berlalu, memandangku dan melihatku begitu serius segera mendekat.
“ada apa mas?”
“ehm… Saya penasaran Pak” jawabku, “ini apa sih? Kontol atau apa??”
Entah keberanian darimana, tanganku meremas gemas gundukan di selangkangan pak Wanto. Pak Wanto nampak kaget. Namun, ntah dia ga sempat menghindar atau memang pasrah, ga ada perlawanan dari dia.
“Membalas saya ya mas??” ujarnya sambil tertawa
“Habisnya bapak sering nyolek pantat saya. Ya, sesekali dong saya balas saja”
Pak Wanto tertawa lepas. Tanganku yang semula cuma sebentar meremas gundukan itu, kembali dengan berani meremasnya dengan gemas.
“ ini kontol atau apa pak,” celutukku nakal, “kayaknya gede banget Pak”
Pak Wanto nampak tidak menolak saat aku meremas-remas lagi dengan gemas kemaluannya. “ya kontol lah mas. Masa pentungan??” jawabnya sambil tertawa sumbang, mungkin risih karena tanganku masih menempel dan meremas-remas di sana.
“masa sih Pak,” aku kejar terus, ”gede ya Pak?”
“Iya lah. Ini aja belum bangun tuh”
“Akh, ga percaya”
“mau liat??” tiba2 dia menanyakan hal itu. Ehm…
“memang boileh saya liat?”
“klo mas mau buktiin,” tukasnya, “saya buka sekarang”
“Eh, jangan di sini Pak” cegahku saat dia mulai menurunkan risluting celananya, “di dalam, ntar ada yang liat kan malu tuh..”
“ Oh iya ya.. Lupa.. Hehehehe”
Di dalam, lantas kami memilih salah satu toilet di sudut ruangan dan tentu yang tertutup.
“nah, di sini kan aman Pak”
“Jadi mau liatnya?”
“Boleh. Saya penasaran segede apa sih”
Srettt.. Pak Wanto menurunkan risluting celananya lalu tangannya mencoba menyusup ke dalam celananya. Agak kesulitan baginya. Akhirnya, dilepasnya sabuk di pinggangnya melepas pengait celana kain bewarna gelap dan ketat itu. Kulihatlah sekilas gundukan itu dibalik balutan CD coklat tua. Akhirnya….
“Wah, astaga Pak,” gumanku kagum, “gede panjang Pak”
Pak Wanto tertawa seakan bangga dan mungkin senang karena mendapat pujian. Ya. Benda bulat panjang itu berada dalam genggamannya, masih lemas tentu saja, berjuntai indah dengan kepala besar mengecil ke pangkal batangnya yang ditumbuhi bulu lebat, yang pasti tidak pernah dicukur. Benda itu kian eksotik di mataku dengan warnanya yang gelap
“Nah. Sudah percaya kan?” ujar Pak Wanto seraya akan memasukan kembali ‘ular’ itu ke dalam sarangnya.
“Bentar Pak… “ cegahku, “saya belum puas melihatnya….”
Nekad aku pegang benda itu, terasa hangat. Pak Wanto tidak bisa menolaknya. Kugenggam dengan lembut benda itu.
“hihihihi.. Liat Pak,” ujarku, “warna kontol bapak di bandingkan dengan warna tanganku. Kontol bapak jauh lebih hitam tuh”
“Akh.. Mas ini bisa saja.”
Pak Wanto nampak pasrah membiarkanku menggenggam kemaluannya sambil berdecak kagum.
“Pak, ini aja belum bangun udah gede,”pujiku lagi, “gimana klo sudah bangun ya?”
Pak Wanto hanya tertawa kecil mendengar celotehku.
“Coba kita bangunkan yuk” ujarku nakal seraya mengocok pelan kemaluan Pak Wanto.
“Akh.. Kok dikocok mas?”
“Biar aja Pak, “pintaku, “saya pengen liat kontol bapak ini sebesar apa klo sudah mengeras”
“Jangan mas,” tolak pak Wanto, “Nanti klo sudah bangun gimana?”
“Cuman sebentar aja Pak”
“saat ini istri saya lagi datang bulan” terang pak Wanto, “Ntar saya salurkan ke mana? Ini aja sudah 4 hari ga dapat jatah”
“Tenang aja pak….”
Tak sabar lagi aku menanti lama. Aku segera jongkok dan mulai menjilati kepala kemaluan Pak Wanto. Sebentar saja kumasukan kepala kemaluan itu ke dalam mulutku. Aku permainkan dengan lidahku.
“ Mas……”
Pak Wanto nampak berusaha menarik kepala kemaluannya dari dalam mulutku.
“biar aja Pak” pintaku di sela-sela menyedot-nyedot kepala itu, “aku pengen ngisep kontol bapak yang gede”
Aku berusaha sedalam mungkin memasukkan kontol yg masih layu itu ke dalam mulutku hingga menyentuh pangkalnya. Kurasakan bulu-bulu jembutnya yang lebat menggelitiki bibirku. Kurasakan denyut kemaluan pak Wanto dalam mulutku. Puas mengulum benda itu samapi ke pangkalnya, aku mulai memaju-mundurkan mulutku sambil kugelitiki dengan lidahku.
“mas…..”
Pak Wanto nampaknya tidak kuasa menolak lagi. Kemaluannya berdenyut, memanjang, membesar dan tentu saja menegang. Membuatku agak kesulitan mengulum benda itu. Kugenggam pangkal batangnya itu sementara itu aku kian gencar menyedot-nyedot kepala dan sedikit batangnya.
Ada yang kurasakan kurang saat itu. Yah.. Aku kepengen menjilati biji kemaluannya. Segera aku pelorot celananya hingga ke pahanya. Kuangkat kemaluannya yang mulai mengeras itu, kuperhatikan kepala kemaluan itu menyentuh pusarnya yang berbulu lebat merambat ke atas dan ke bawah.
Owww.. Dua buah biji kemaluannya nampak menggantung indah, hitam dan besar pula. Tak sabar aku jilati keduanya bergantian, membuat Pak Warto menggelinjang. Kusedot2 dengan ganas.
“mas…”
Selanjutnya, kembali aku mengisap kepala kemaluannya yang membengkak walau kemaluannya belum begitu maksimal menegang. Kulumat-lumat dengan gemas. Kurasakan tubuh Pak Wanto bergetar-getar.
“mas… Saya mau keluar….”
Pak Wanto seakan mau menarik kemaluannya dari dalam mulutku, ia seakan ga mau air kenikmatannya membuncah dalam mulutku.
“Euhmm… Euhmmm….”
Aku menahannya agar tidak menarik kemaluannya dari dalam mulutku. Suaraku agak tidak jelas karena tersumpal kemaluannya..
“Akh…… Awas mas…”
Aku kian gencar mengisap-isap kemaluan pak Wanto, tubuhnya kian bergetar hebat dan akhirnya…
Crot… Crot… Crot..
Cairan kental hangat dengan bau khas membuncah dari kepala kemaluan Pak Wanto membanjiri mulutku. Saking banyaknya sebagian meleleh di luar bibirku dan menetes ke lantai. Sementara itu yang tersisa di dalam mulutku tertelan masuk tanpa terkontrol… Namun, aku terus mengisap-isap kemaluannya.
“udah mas…..” rintih pak Wanto karena aku masih saja menyedot-nyedot kemaluannya yang item itu mulai melemah dan mngecil.
“Ih, saya belum puas Pak. Kok udah keluar sih?”
“Baru kali ini mas saya dikulum sedemikian enaknya….” ceritanya malu-malu.
“masa?”
“iya. Kebanyakan cewek2 ga mau lama2 ngulum soalnya katanya kebesaran. Bikin cape”
Pak Wanto keluar duluan dari toilet, sementara itu aku keluar terakhir setelah menuntaskan HIP (hak ingin pipis) yang sedikit tertunda tadi.
Saat aku keluar, kulihat pak Wanto masih berada di situ di dekat wastafel sambil merokok. Dia tersenyum nakal dan aku membalasnya dengan canggung.
“Kenapa Pak?” tanyaku seraya membasuh wajahku dan kumur2 di wastafel.
“Ehm, mas sering ya ngulum kontol?” tanyanya, “kayaknya lihai banget”
“Iya…”
“oh… Pantesan enak banget”
“ Tapi bapak cepat keluar, saya kan belum puas”
“Saya udah 4 hari ini ga dapat jatah dari istri, mas” jawabnya, “jujur, tadi di toilet saya lagi ngocok tapi ga selesai soalnya ada Pak Andi sama Pak Ali masuk ke dalam. Saya takut ketahuan. Kan malu” ujar pak Wanto. Pak Andi adalah kabag di kantor kami. Orangnya ganteng dan aku sebenarnya suka tapi aku ngerasa illfeel aja sama dia soalnya he don’t have any bulge on his pants. Kayaknya punya cowok itu kecil aja. 7 tahun berkerluarga, dia belum juga mendapat momongan, kasian dia. Sedangkan Pak Ali wakil direktur, orangnya sih Ok tapi sama lah, setali 3 uang dengan pak Andy, kayaknya punya dia kecil juga walau demikian anaknya sudah 3 orang.
“Bapak mau tahu nggak?” kataku sambil melirik gundukan selangkangannya yang masih saja terlihat menggunung, “air mani bapak enak banget.. Gurih…”
“Hah?!… “dia kaget, “mas minum mani saya??”
Aku tersenyum melihat kekagetannya.
“Pak, saya ke ruangan dulu ya…” Aku pamit dan sekali lagi kuremas the hot bulge itu. Pak Wanto tidak menolak saat tanganku meremas selangkangannya.
Sejak kejadian di toilet, Pak Wanto dan aku masih bersikap biasa saja dan dia masih usil mencolek pantatku. Dan sesekali saat tidak seorang-pun di dekat kami, aku remas selangkangannya. Tapi, kami tidak pernah melakukannya di kantor lagi. Sesekali pak Wanto berkunjung ke kontrakanku sehingga aku bisa menikmati kejantanannya sepuasnya. Suatu saat akan kuceritakan saat2 dia berkunjung ke rumahku.
Ada yang aneh dari sikap teman-teman satpamnya. Mereka selalu memandangiku dengan tatapan nakal dan senyum aneh. Namun, aku cuek saja. Aku rasa aku mendapatkan kesempatan lagi untuk mendapatkan lelaki str8 yang haus seks. Hehehehe

Supir Truk Yang Genit (Kisah Gay)


Malam itu, lewat dikit dari tengah malam, suasana kota terasa sepi. Taxi ga ada lewat lagi. Bus pula ga ada. Aku nekat pulang kampung semalam itu hanya untuk mencoba keberuntunganku. Padahal perjalananku lumayan jauh sekitar 200 km lebih. Aku berharap akan menjumpai supir truk yang mau aku oral.. hihihi..
Bermodal nekat, aku berdiri di pinggir jalan sambil sesekali mencoba menghentikan laju truk-truk yang kebanyakan memuat material tanah. Sengaja memang aku mengincar truk karena mereka banyak berkeliaran di malam hari seperti ini. Beberapa kali truk berhenti, namun tidak seraha dengan tujuanku. Berkali-kali juga aku dicuekin.
Setengah jam lewat dikit….
Sebuah truk yang berjalan santai berhenti saat aku melambaikan tangan memanggilnya berhenti. Bedebar dadaku karena ini truk yang ke empat berhenti di depanku.
“Truk ini mau kemana pak?”tanyaku saat kaca truk di bagian penumpang terbuka.
Dia menyebutkan sebuah daerah dan ternyata melewati kotaku.
“Boleh saya numpang pak, soalnya saya mau pulang tapi udah kemalaman banget”
Supir yang kutaksir berumur 40an itu nampak sedikit ragu. Aku menelan ludah. Dia ga cakep tapi enak di lihat. Gagah dan jantan sekali. Tinggi besar dan berkulit agak gelap. Ehm, aku suka cowok seperti ini.
(Gambar hanyalah fiktif belaka)
“saya bayar kok pak, boleh saya numpang kan?”
“OK lah….”
Aku pun langsung masuk ke dalam kabin truk itu. Lumayan hangat. Dan agak berbau kecut sih. Kayaknya ada yang ga mandi nih.. hihihi.. Semenit dua menit dan banyak menit, kami mulai ngobrol. Katanya sih dia lagi bawa semen makanya truk berjalan santai. Terkadang sih cepet juga tapi bobot semen sangat besar jadi lumayan lah membuat truk itu ngos-ngosan.
Sesekali aku perhatikan lelaki kekar itu, ehm, sangat menarik di mata homoku. Berkali-kali aku menelan ludah membayangkan betapa beruntunganya aku jika bisa mencicipi kemaluannya di mulutku.. hihihi.. Namun, aku belum berani macam-macam. Berdebar dadaku sambil memutar otak agar dapat merayunya.
Orangnya ramah dan banyak omong sih menurutku. Katanya sih istrinya tiga. Belum lagi cewek-cewek di jalan yang dia lalui. Wihhh… doyan ngentot lonte juga ternyata.. aku suka tipikal cowok nakal seperti ini. Duh, aku jadi ngaceng nih.. tapi bingung harus memulai darimana. Aku hanya memutar-mutar pertanyaan. Bingung, aku nanya sejengkal dianya malah ngomong panjang lebar dan sambil tertawa-tawa. Lumayan sih, aku jadi ga canggung bertanya nakal. Misalnya cewek warung favoritnya. Bahkan soal pecah perawan segala. Katanya sih dia udah ga kehitung cewek yang dia perawani. Gila, aku makin penasaran saja.
“Mang (panggilan paman), aku ngantuk nih. Saya tidur dulu ya…”
“ok… tapi nanti kita berhenti makan ya”
“ya…”
Aku tertidur juga entah berapa lama hingga aku merasakan truk itu berhenti di sebuah warung. Kulirik jam di hpku, jam 3 pagi. Ups, udara dingin bekas hujan menerpaku saat turun dari kabin. Mataku yang masih mengantuk segera kupaksakan terbuka. Warung itu lumayan gede dan nampak cewek-cewek berpakaian ketat menyambut kami dengan senyuman. Ada beberapa laki-laki di situ. Mereka biasa saja. Si Supir itu nampak mendekati seorang cewek muda dan mereka ketawa-ketawa. Aku jadi sadar mungkin warung ini salah satu warung favoritnya. Ya warung jablay.
Aku pesan mie instan dan teh hangat saat ditanya dengan genit oleh si pemilik warung. Aku duduk dan kuperhatikan si cewek muda itu sedang duduk di pangkuan supir tadi. Ehm, betapa beruntungnya itu cewek, pikirku cemburu.. . Puas pangku-pangkuan, kulihat cewek itu melayani dia dengan segelas kopi dan mie instan juga sambil cekikikan genit. Aku maklum walau risih juga.
Dari tempat dudukku, kulihat si supir masuk ke bagian belakang warung itu bersama si jablay muda diiringi sorak kecil jablay lainnya. Si supir sempat tersenyum nakal kepadaku dan aku membalas dengan acungan jempolku. Aku hanya kecewa pada diriku, sungguh beruntung cewek itu.
“Kamu sudah selesai?”
Kaget, iya. Saat menyeruput tetes-tetes akhir teh hangatku tiba-tiba si supir sudah di sampingku. Ga sampe 10 menit deh, kok cepat ya?
Aku segera membayar makananku tadi. Dan buru-buru kembali ke truk yang parkir di depan warung. Aku masuk kabin dan si supir masih belum masuk. Dia nampak sedang menelpon seseorang dengan nada kesal. Saat dia berada di belakang kemudi, dia menutup telpon dengan kesal.
“Kenapa mang?”
“Dasar jablay. Maunya duit aja. Padahal kemarin kemarin kan sudah aku kasih lebih” dumelnya, “eh, giliran duitnya kurang dia ndak mau ku ajak ngentot.. harghhh…”
Aku tertawa kecil melihatnya.
“kupikir tadi udah naik turun… hihihihii”
“jangankan ngentot, kusuruh karaoke aja dia ga mau… jablay.. jablay…”
“wah kasian donk ndak jadi dikeluarin….”
“iya… sialan.. aku lagi pengen.. sudah tegang-tegangnya eh dia nolak…”
Ups, kulihat dia mengusap tonjolan selangkangannya yang terbungkus celana kain semi jeans itu. aku menelan ludah. Masih terlihat kekesalan dan kekecewaan di wajahnya, dia menghisap rokoknya dalam-dalam.
Tiba-tiba dia menghentikan truknya, lalu membuka pintu kabin. Dan, dia berdiri di situ. Gila dia kencing dalam posisi membelakangiku. Suara currr itu loh yang bikin aku blingsatan. Aku mau tahu, aku mau liat tapi gimana caranya. Terpaksa aku gigit jari.
“Akh.. jablay sialan.. punyaku ga bisa tidur gara-gara dia tolak.. masih tegang saja” dumelnya lagi sambil duduk di belakang kemudi. Aku hanya menahan napas. Coba aku bisa liat punya dia tadi ya.. huh..
Truk jalan lagi…
“akh… klo begini keadaannya klo ketemu bencong sudah aku sikat dia”
What?? Apa ga salah denger aku??
“Memangnya pernah kah pake bencong?” tanyaku gemetar sambil tertawa kecil.
“Belum sih tapi sudah ga tahan…”
Wah.. wah…
“Memangnya masih tegang ya mang??”
“jelas.. kan tadi minta dikeluarin sama si jablay tapi dia ga mau padahal sudah 3 hari ga ada diasah ini. Makanya kalau ketemu bencong, aku sikat aja daripada pusing”
Aku bergeser dikit ke arahnya.
“mana yang tegang tadi?”
Nekat. Entah kekuatan darimana, tanganku mendarat di selangkangannya. Gemetar aku. Dia nampak kaget. Namun tidak menolak saat telapak tanganku mengusap perlahan selangkangannya.. ya ampun, dadaku berdebar sangat kencang.
“Oh iya, tegang banget mang” celutukku sambil meraba-raba tonjolan kemaluannya yang masih di dalam celana itu.
Dia tidak bersuara namun tidak menolak gerak tanganku yang kemudian meremas-remas dengan lembut. Aku sangat bernafsu. Aku terbawa suasana….
“mang, menepi sebentar”
Si supir agak kaget juga saat aku minta menepi. Namun, perlahan laju truk dia perlambat dan akhirnya berhenti menepi di pingir jalan yang sepi. Truk itu masih menyala mesinnya. Sementara tangan kananku itu masih meraba-raba selangkangannya.
“kenapa kita menepi?” tanyanya heran.
Aku tidak menjawab, aku malah menundukkan mukaku ke arah selangkangannya. Dia agak kaget. Di tahannya bahuku.
“Mau apa?” tanyanya…
“Aku kepengen banget ngemut punyamu mang…..” jawabku gemetar…
Aku agak memaksakan kehendakku, kuperkeras tekananku dan bibirku mendarat di tonjolan selangkangannya. Dia masih mencoba menahan bahuku. Kujulurkan lidahku menjilat-jilat bagian luar tonjolan itu. Usahaku itu membuahkan hasil, dia pasrah. Dibiarkannya aku bermain-main dengan tonjolannya. Dia hanya mendesis-desis kecil.
Aku bangkit dan mencoba membuka pengait celananya. Agak kesulitan. Dan dia malah membukakannya bagiku. Homo mana yang menolak saat lidahku menyentuh celana dalamnya. Bahkan lidahku bertemu gundukan itu.. keras hangat dan gaka berbau pesing. Namun aku suka. Ini bau laki-laki sejati dan jantan.
Aku bangkit lagi. Giliran tanganku meremas ke dalam celananya, meremas gemas dari luar tonjolan di dalam celana dalam itu.
“Mending mesinnya kamu matiin” kataku. Dia manut. Dimatikannya mesin truk itu. Namun lampu-lampu panelnya masih menyala. Kutarik turun celana panjangnya itu. Bahkan terlepas dari kedua kakinya. Kutarik tubuhnya hingga menghadap ke arahku. Aku makin bergairah saat meraba bulu kakinya yang lebat. Ohhh…..
Ku taro kaki kanannya di dashboard sementara kaki kirinya menekuk di tempat duduk. Sungguh aku jadi gila. Kuremas selangkangannya dengan gemas. Dia bersandar di pintu kabin. Aku kembali menunduk. Kuciumin dan kujilati gundukan celana dalam itu. Bener-bener bau jantan bercampur pesing yang membuatku bernafsu. Celana dalamnya basah entah karena precum atau liurku.
“akhhh….”
Desahnya sambil mengangkat pantatnya menikmati kenyotanku di gundukan itu. Kujilati dari bawah. Dia bergelinjang. Di bagian buah pelir itu kukenyot-kenyot.. dia mengangkat pantatnya sambil mendesis-desis.
Segera aku menarik turun celana dalam pesing tadi. Sungguh. Sebuah benda bulat memanjang dengan bulu menghitam keriting di bagian pangkalnya membuatku gila. Kuraba gemas bulunya yang lebat. Sementara celana dalamnya udah terlepas dari kakinya dan entah ke mana jatuhnya setelah aku ciumin sebentar. Wew…
Aku menggenggam batang kemaluannya dengan gemas. Ga terlalu panjang 14 cm namun gemuk dengan kepala yang lebih besar ketimbang batangnya. Disunat dan bulunya itu lebat banget merambat ke atas sampe balik bajunya. Kuraba lubang kecingnya basah dengan precum
“Akhh.. estttt”
Desisnya saat lidahku menjilati buah kemaluannya itu. Bergantian kiri kanan sambil sesekali aku kenyot-kenyot dengan gemas. Dia mengelinjang-gelinjang dengan pantat naik turun. Aku senang dia nampak sangat terangsang dengan aksiku.
Jilatanku berpindah ke batangnya yang tersembul urat-urat. Terus naik hingga lidahku menyentuh cairan precum di lubang kencingnya. Asin gurih dan sebagainya lah…. aku ga perduli lagi lonte-lonte yang sudah pernah diterjang rudalnya itu. Semula kemaluannya rebah searah perutnya. Aku genggam dan aku coba tegakkan, agak berat karena kemaluannya berdenyut-denyut dan sangat keras.
Kujilati kepalanya dan kadang kukecup-kecup lembut. Membuat dia makin blingsatan.
“isap… Isap…” desahnya..
Aku cuek, tidak kuhiraukan dia. Lidahku masih asyik menjilati kepala penisnya dan sesekali aku gigit lembut.
Tiba-tiba, tangan kanannya memegang kepalaku dan memberi tekanan agar kepalaku makin turun. Saat itu lah aku buka mulutku dan separo batangnya masuk dalam mulutku. Aku sempat tersedak.
Namun, aku dengan segera mengulum kembali. Denga susah payah aku mencoba memasukan semua batangnya ke dalam mulutku. Sungguh.. bibirku bertemu dengan bulu jembutnya yang lebat dan berbau keringat jantan itu..
“akhhhh……….”
Dia mendesah. Aku mulai mengemut kemaluannya dengan lembut. Kepalaku naik turun dengan pelan. Lidahku memilin-milin dengan lindah. Badannya menggelinjang-gelinjang sambil mendesis-desis. Tangannya menjauh dari kepalaku sehingga dengan leluasa aku aku bergerak. Naik turun konsisten….
“Awwwww…… akhhhhh….”
Tiba-tiba dia memekik. Dia seolah hendak menarik rudalnya dari dalam jepitan mulutku. Namun aku menahannya. Aku kejar gerakan pantatnya dan dengan penuh nafsu aku masukan rudalnya hingga bibirku kembali menyentuh bulu jembutnya yang keriting lebat.
Crot.. crot…
Aku tersedak. Tembakan maninya memenuhi rongga mulutku. Aku gelagapan saking banyaknya. Namun aku mencoba menghisap kemaluannya yang sedang menembakan mani itu. Dia kelejot-kelejot kenikmatan. Sambil kedua tangannya memegang kepalaku, menekan-nekan.
Gila. …. mani banyak banget dan kental. Gurih pula.. Aku lupa dia supir truk yang suka jajan lonte di warung-warung jablay. Aku lupa saking asyiknya menhisap-hisap rudalnya yang mulai loyo. Napasnya tersengal-sengal dan kedua tangannya sudah tersimpan di balik kepalanya. Dia biarkan aku yang masih asyik menjilati sisa maninya.
“hebat banget servis kamu, “ pujinya, “kamu sering ya begini. Aku sebentar aja sudah keluar”
Aku tertawa kecil.
“Maniku kamu minum ya?”
“Iya, knp mang?”
“Gmn rasanya?? Kamu suka??”
“Gurih, asin. Aku suka banget”
“Jablay-jablay yang biasa aku pake ga mau maniku keluar di mulutnya klo cuman karaoke. Itupun lebih sering dikocok ketimbang diemut”
“Makanya urusan karaoke, serahkan pada ahlinya”
Dia mulai membenahi celananya. Dan setelah rapi dia kembali menghidupkan mesin truk itu.
“Kepalaku sudah ringan” katanya
Aku tertawa. Aku senang. Aku berhasil mewujudkan fantasiku selama ini. Ugh..
Kami cuma melakukan itu sekali saja malam itu. Lagipula kotaku sudah dekat. Sebelum pisah kami sempat bertukar nomor HP dan aku jujur padanya klo aku belum puas ngemut punya dia yang cepat keluar.
Waktu aku kembali dari kotaku, aku kembali ikut dia. Dalam perjalanan itu dua kali aku ngemut punya dia. Sayangnya, maninya ga banyak mungkin habis kepake sebelumnya. Hingga kini kami akrab dan masih sering kontak. Bahkan pernah suatu ketika aku disuruh nonton saat dia ngentot seorang jablay warung. Mungkin akan kuceritakan nanti.

Om-Om Tampan dan Ganteng

Om-om tampan dan ganteng yang siap melayani anda kapan-pun...
Part 2



















Jika anda menginginkan alamatnya... tuliskan di komentar...